Rabu, 21 September 2011

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MENURUT ADAM SMITH DAN J.S. MILL

A.    Teori Perdagangan Menurut Adam Smith
Teori Absolute Advantage lebih mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan moneter, sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value).
Teori Absolute Advantage Adam Smith yang sederhana menggunakan teori nilai tenaga kerja. Teori nilai kerja ini bersifat sangat sederhana sebab menggunakan anggapan bahwa tenaga kerja itu sifatnya homogeny serta merupakan satu-satunya faktor produksi. Dalam kenyataannya tenaga kerja itu tidak homogen, faktor produksi tidak hanya satu dan mobilitas tenaga kerja tidak bebas. Namun teori itu mempunyai dua manfat: pertama, memungkinkan kita dengan secara sederhana menjelaskan tentang spesialisasi dan keuntungan dari pertukaran. Kedua, meskipun pada teori-teori berikutnya (teori modern) kita tidak menggunakan teori nilai tenaga kerja, namun prinsip teori ini tidak bisa ditinggalkan (tetap berlaku).
Teori ini secara sederhana dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: Misalnya hanya ada dua negara, Amerika dan Inggris memiliki faktor produksi tenaga kerja yang homogen menghasilkan dua barang yakni gandum dan pakaian. Untuk menghasilkan 1 unit gandum dan pakaian, Amerika membutuhkan 8 unit tenaga kerja dan 4 unit tenaga kerja. Di Inggris setiap unit gandum dan pakaian masing-masing membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 unit dan 2 unit.
Produksi Amerika Inggris
Produksi
Amerika
Inggris
Gandum
8
10
Pakaian
4
2

Dari tabel di atas nampak bahwa Amerika lebih efisien dalam memproduksi gandum sedang Inggris dalam produksi pakaian. 1 unit gandum diperlukan 10 unit tenaga kerja di Inggris sedang di Amerika hanya 8 unit (10 > 8). 1 unit pakaian di Amerika memerlukan 4 unit tenaga kerja sedang di Inggris hanya 2 unit. Keadaan demikian ini dapat dikatakan bahwa Amerika memiliki absolute advantage pada produksi gandum dan Inggris memiliki absolute advantage pada produksi pakaian. Dikatakan absolute advantage karena masing-masing negara dapat menghasilkan satu macam barang dengan biaya yang secara absolut lebih rendah dari negara lain.
Sebelum terjadi pertukaran, nilai tukar di Amerikan adalah 1 unit gandum = 2 unit pakaian, sebeb jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan 1 unit gandum 2 kali lebih banyak daripada untuk menghasilkan pakaian (8 banding 4). Sama halnya dengan di Inggris, nilai tukarnya adalah 1 unit gandum = 5 unit pakaian, sebab jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan 1 unit gandum 5 kali lebih banyak daripad untuk memproduksi 1 unit pakaian (10 banding 2)
Menurut Adam Smith, kedua negara akan memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi dan kemudian berdagang. Amerika cenderung berspesialisasi pada produksi gandum dan Inggris pada produksi pakaian. Dasar spesialisasi ini adalah absolute advantage dalam produksi barang-barang tersebut.
Untuk menunjukkan besarnya keuntungan ini, misalnya saja Amerika mengalokasikan 16 unit tenaga kerja dari produksi pakaian ke produksi gandum, dan Inggris mengalokasikan 10 unit tenaga kerja dari produksi gandum ke produksi pakaian. Produksi gandum di Amerika akan naik dengan 2 unit (yakni 16/8) dan produksi pakaian akan turun 4 unit (yakni 16/4). Sama halnya dengan Inggris, produksi gandum turun hingga 1 unit (10/10) dan produksi pakaian naik dengan 5 (yakni 10/2). Dari alokasi ini, nampak bahwa output total (gandum dan pakaian) akan bertambah. Gandum akan bertambah dengan 1 unit sebab  di Amerika produksi naik 2 unit dan Inggris turun dengan 1 unit. Demikian juga dengan pakaian, akan naik 1 unit, sebab produksi di Inggris naik dengan 5 unit dan di Amerika turun dengan 4 unit. Oleh karena itu, Adam Smith menganjurkan adanya spesialisasi untuk meningkatkan output dunia.
Pertukaran akan membawa keuntungan kedua belah pihak. Kedua negara akan memperoleh keuntungan apabila nilai tukar yang terjadi terletak diantara nilai tukar masing-masing negara sebelum terjadi pertukaran. Misalnya, nilai tukar yang terjadi di pasar 1 unit gandum = 4 unit pakaian. Kedua negara akan memperoleh keuntungan dari pertukaran. Amerika kan menjual gandum dan membeli pakaian. Sebaliknya, Inggris akan menjual pakaian dan membeli gandum. Bagi Amerika, untuk menghasilkan 1 unit pakaian diperlukan 4 tenaga kerja, sebaliknya, dengan membeli (import) dari Inggris akan lebih murah. Guna memperoleh (mengimport) 1 unit pakaian, Amerika harus menukarkan kan/mengekspor gandum ke Inggris sebanyak ¼ unit, kerana nilai tukar di pasar 1 unit gandum = 4 pakaian. Untuk menghasilkan ¼ gandum hanya diperlukan 2 unit tenaga kerja (yakni (1/4 x 8). Dengan demikian, Amerika dapat memperoleh 1 unit pakaian hanya dengan mengorbankan 2 unit tenaga kerja, yang kalau dihasilkan sendiri akan mengorbanlkan 4 unit tenaga kerja, sehingga keuntungannya berupa penghematan tenaga kerja sebnayak 2 unit tenaga kerja (4-2). Demikian juga Inggris, dengan berspesialisasi pada produksi pakaian dan kemudian ditukarkan gandum dari Amerika akan memperoleh keuntungan. Untuk setiap unit gandum yang diimport dari Amerika, Inggris harus mengekspor sebanyak 4 unit pakaian. Karena setiap 1 unit pakaian diperlukan 2 unit tenaga kerja. Maka, untuk 1 unit gandum yang diimpor diperlukan 8 unit tenaga kerja (4x2). Kalau dihasilkan sendiri 1 unit gandum ini memerlukan 10 unit tenaga kerja. Dengan demikian, Inggris dapat menghemat 2 unit tenaga kerja (10-8). Dari contoh di atas, jelas bahwa spesialisasi atas dasar absolute advantage yang kemudian diikuti dengan pertukaran kedua negara dapat memperoleh keuntungan.
Kelebihan dari teori absolute advantage yaitu terjadinya perdagangan bebas antara dua negara yang saling memiliki keunggulan absolut yang berbeda, dimana terjadi interaksi ekspor dan impor. Di mana hal ini meningkatkan kemakmuran negara. Kelemahannya yaitu apabila hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak akan terjadi karena tidak ada keuntungan.

B.     Teori Perdagangan Menurut John Stuart Mill
Teori J.S.Mill menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative disadvantage (suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar).
Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Contoh: Produksi 10 orang dalam 1 minggu
Produksi
Amerika
Inggris
Gandum
6 bakul
2 bakul
Pakaian
10 yard
6 yard

Menurut teori ini perdagangan antara Amerika dengan Inggris tidak akan timbul karena absolute advantage untuk produksi gandum dan pakaian ada pada Amerika semua. Tetapi yang penting bukan absolute advantagenya tetapi comparative advantagenya.
Besarnya comparative advantage untuk Amerika, dalam produksi gandum 6 bakul dibanding 2 bakul dari Inggris atau = 3 : 1. Dalam produksi pakaian 10 yard dibanding 6 yard dari Inggris atau 5/3 : 1. Di sini Amerika memiliki comparative advantage pada produksi gandum yakni 3 : 1 lebih besar dari 5/3 : 1.
Untuk Inggris, dalam produksi gandum 2 bakul dibanding 6 bakul dari Amerika atau 1/3 : 1. Dalam produksi pakaian 6 yard dari Amerika Serikat atau = 3/5: 1. Comparative advantage ada pada produksi pakaian yakni 3/5 : 1 lebih besar dari 1/3 : 1.
Oleh karena itu perdagangan akan timbul antara Amerika dengan Inggris, dengan spesialisasi gandum untuk Amerika dan menukarkan sebagian gandumnya dengan pakaian dari Inggris. Dasar nilai pertukaran (term of trade) ditentukan dengan batas-batas nilai tukar masing-masing barang di dalam negeri, yakni:
Untuk gandum harga dalam negeri di:
Ø Amerika adalah 6 bakul = 10 yard, jadi 1 b =1 2/3 y
Ø Inggris adalah 2 bakul = 6 yards, jadi 1 b = 3y

Dengan demikian, untuk gandum, terms of trade nya adalah:
1 2/3 < n < 3/5

Untuk pakaian harga dalam negeri di:
Ø Amerika adalah 10 yard = 6 bakul, jadi 1 y = 3/5 b
Ø Inggris adalah 6 yard = 2 bakul, jadi 1y =1/3b

Untuk pakaian, terms of trade nya adalah:
1/3 < n < 3/5

Pertukaran akan menguntungkan kedua belah pihak apabila nilai tukar untuk
Gandum             1 2/3 < n < 3
Pakaian              1/3 < n< 3/5
Sebagai contoh, dalam pertukaran, nilai tukarnya adalah 1 bakul = 2 yards, maka keuntungan karena perdagangan (gains from trade) untuk tiap :
1 bakul gandum : Amerika adalah 2 y - 1 2/3 y = 1/3 y
                              Inggris adalah 3 y – 2 y = 1 y
I yards pakaian  : Amerika adalah 3/5 b – ½ b = 1/10 b
                              Inggris adalah ½ b – 1/3 b = 1/6b

Apabila nilai tukar dalam perdagangan itu sama dengan harga di dalam negeri salah satu negara, maka keuntungan karena perdagangan (gains from trade) tersebut hanya pada satu negara saja.
Dengan demikian, maka teori comparative advantage dapat menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan karena pertukaran di mana kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori absolute advantage.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar